CIANJUR – Menghadapi risiko penyakit akibat cuaca panas ekstrem dan keterbatasan air bersih di musim kemarau, Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur meminta warga membiasakan kembali penggunaan masker serta menjaga kebersihan diri dan kecukupan cairan tubuh.
Kepala Dinkes Cianjur dr. I Made Setiawan mengatakan, salah satu kondisi yang perlu diwaspadai saat cuaca panas adalah dehidrasi hingga heat stroke. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika tubuh kehilangan banyak cairan akibat paparan suhu panas.
“Karena cuaca panas, ini sering terjadi dehidrasi. Dehidrasi itu kekurangan cairan di dalam tubuh. Makanya perlu kita antisipasi dengan banyak minum, sehingga cairan tubuh tetap terjaga dan imunitas bisa dipertahankan,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Selain cuaca panas, peningkatan debu selama musim kemarau juga berpotensi mengganggu kesehatan, khususnya saluran pernapasan. Debu yang beterbangan dapat membawa polutan maupun virus dan bakteri yang kemudian terhirup oleh masyarakat.
Untuk mengantisipasi gangguan pernapasan, masyarakat diimbau menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar rumah atau berada di wilayah yang banyak debu dan terpapar asap.
“Debu itu satu polusinya memang debunya sendiri, dan juga ada virus ataupun bakteri yang ikut masuk ke dalam saluran napas. Kita harus melakukan pemakaian masker,” katanya.
Menurut Made, persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan air bersih. Sejumlah wilayah di Cianjur yang mengalami kekeringan berpotensi menghadapi peningkatan kasus penyakit yang berkaitan dengan kebersihan dan sanitasi, seperti diare.
“Kita tahu banyak daerah-daerah kekeringan. Kita takutkan di situ penyakit diare, karena cuci tangan kurang air atau air bersihnya memang kurang,” ujarnya.
Selain itu, paparan asap akibat kebakaran juga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan. Made menyebut fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas, memiliki persediaan masker untuk membantu masyarakat.
“Masker ada. Sekarang masker bukan hanya untuk penyakit, tapi untuk menjaga diri kita, termasuk dari debu, paparan asap, juga paparan bakteri dan lainnya,” kata Made.
Ia mengingatkan masyarakat agar menjadikan penggunaan masker sebagai kebiasaan, terutama ketika kondisi udara dipenuhi debu atau asap.
“Kalau terlalu banyak mungkin tidak ada, tetapi masing-masing sudah menjadi budaya untuk membiasakan diri menggunakan masker,” pungkasnya.(**)

