CIANJUR – Dua unit rumah milik warga di Kampung Cidogdog, Desa Sukaratu, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, ludes terbakar pada Rabu (12/8/2026) dini hari, menyebabkan kerugian materi yang diperkirakan mencapai Rp150 juta.
Kedua rumah tersebut masing-masing milik Nenek Titi dan keluarga Eye. Kebakaran diduga pertama kali muncul dari rumah Nenek Titi sebelum api membesar dan merembet ke rumah milik keluarga Eye.
Informasi yang dihimpun, saat mengetahui rumahnya terbakar, Nenek Titi berteriak meminta pertolongan. Warga yang mendengar teriakan tersebut kemudian berbondong-bondong keluar rumah dan berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya.
Namun, upaya pemadaman terkendala minimnya sumber air. Saluran irigasi di sekitar lokasi tidak mengalir, sementara sumber air lainnya berada cukup jauh dari lokasi kejadian.
Warga akhirnya berupaya mencegah api merembet ke rumah lainnya dengan merobohkan bagian rumah yang terbakar menggunakan bambu dan peralatan seadanya.
“Karena air tidak ada, warga berusaha merobohkan rumah yang terbakar agar api tidak merembet ke rumah warga lainnya,” ujar Deni (35), menantu Eye, pemilik salah satu rumah yang terbakar.
Setelah kedua rumah ambruk, kobaran api akhirnya dapat dikendalikan. Warga kemudian berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi api kembali menyala dan merembet ke permukiman lainnya.
Dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban jiwa. Namun, dua keluarga pemilik rumah mengalami kerugian materi yang diperkirakan mencapai Rp150 juta.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Kerugian dari dua rumah diperkirakan sekitar Rp150 juta,” tambahnya.
Sementara itu, Komandan Regu (Danru) 2 Unit Pemadam Kebakaran Pos Ciranjang, Maman Abdurahman, mengatakan pihaknya tidak menerima laporan saat kebakaran terjadi. Laporan baru diterima setelah kejadian berlangsung.
Menurut Maman, pihaknya menyayangkan tidak adanya laporan dari warga saat api mulai muncul. Berdasarkan keterangan masyarakat, lokasi rumah yang terbakar cukup jauh dari jalur utama dan berada di akses jalan yang sempit, sehingga warga menganggap sulit dijangkau mobil pemadam.
“Menurut masyarakat, jarak dari jalan utama ke lokasi hampir 700 meter dan aksesnya cukup sempit, sehingga saat kejadian warga tidak melaporkan kepada kami,” ujar Maman.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan setiap kejadian kebakaran kepada petugas Damkar. Menurutnya, petugas akan berupaya mencari solusi meskipun lokasi kejadian jauh dari sumber air maupun akses jalan utama.
“Kalau terjadi kebakaran, jangan ragu melapor ke Damkar. Kami akan tetap menangani dan mencari cara, termasuk jika lokasi jauh dari sumber air maupun sulit dijangkau,” tutupnya.(**)

