CIANJUR – Kerukunan antarumat beragama kembali ditunjukkan masyarakat Cianjur. Gereja Katolik St. Petrus Cianjur meminjamkan Gedung Fransiskus Clara (GFC) kepada jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Nehemia untuk digunakan sebagai tempat ibadah sementara.
Fasilitas tersebut digunakan jemaat GBI Nehemia untuk melaksanakan ibadah Minggu selama gedung gereja mereka menjalani proses perbaikan pascakebakaran.
Kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu membuat aktivitas peribadatan jemaat GBI Nehemia harus dipindahkan untuk sementara. Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian dari Gereja Katolik St. Petrus dengan menyediakan fasilitas yang dapat digunakan jemaat untuk beribadah.
Pastor Paroki St. Petrus Cianjur, Pater Sebastian Gaguk, OFM, mengatakan pihaknya membuka fasilitas tersebut sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kepada sesama umat beragama.
“Pintu kami terbuka untuk membantu saudara-saudari kita agar tetap dapat beribadah dengan tenang dan khidmat di tengah masa sulit ini,” ujarnya, Minggu (30/8/2026).
Pengurus GBI Nehemia menyambut baik dukungan tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Gereja Katolik St. Petrus. Penggunaan Gedung Fransiskus Clara memungkinkan jemaat tetap menjalankan ibadah secara rutin sembari menunggu proses perbaikan gedung gereja mereka selesai.
Ketua Pemuda Katolik Cianjur, Andreas Sihaloho, turut mengapresiasi sikap Gereja Katolik St. Petrus yang memberikan ruang bagi jemaat GBI Nehemia.
Menurut Andreas, penggunaan fasilitas secara bersama menunjukkan praktik toleransi dan solidaritas antarumat beragama yang dapat menjadi contoh bagi masyarakat.
“Semoga apa yang terjadi di Cianjur ini menjadi contoh bagi jemaat lainnya. Kerukunan harus menjadi kekuatan bersama dalam kehidupan umat beragama,” katanya.
Ia berharap solidaritas antarumat beragama di Cianjur terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menurutnya, perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk saling membantu ketika kelompok lain mengalami musibah.
Kerukunan antarumat beragama, lanjut Andreas, tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi sesama.(**)

