Site icon IDN Channel

Stok Beras Cianjur Dipastikan Aman Hingga Musim Hujan

CIANJUR – Meski penyerapan gabah dari petani lokal merosot hingga 50 persen akibat musim kemarau, Perum Bulog Cabang Cianjur menjamin ketersediaan beras tetap terkendali. Ditopang pasokan dari wilayah Sukabumi, Bulog menguasai cadangan 32 ribu ton beras hingga akhir 2026.

Kepala Perum Bulog Cabang Cianjur, Muhammad Azwar Fuad, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan pangan di tengah potensi dampak kekeringan yang diprediksi BMKG.

“Stok Bulog sampai hari ini sekitar 32 ribu ton. Jumlah tersebut sangat cukup untuk meng-cover kebutuhan pangan masyarakat sampai akhir tahun,” ucapnya, Rabu (22/7/2026).

Selain memastikan kecukupan stok, Bulog juga menyiapkan beberapa skema bantuan pangan apabila dampak kekeringan semakin meluas. Salah satunya melalui Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) yang saat ini tersimpan di gudang Bulog sebanyak 18 ton.

Menurutnya, beras CPPD dapat segera disalurkan kepada masyarakat apabila pemerintah daerah menetapkan adanya kerawanan pangan akibat kekeringan melalui surat dari dinas terkait.

Kawal Empat Tuntutan PPPK Cianjur Perkuat Solidaritas

“Kalau kondisi bencananya lebih besar dan sudah ada penetapan tanggap darurat dari bupati, pemerintah daerah juga bisa mengajukan penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk bencana alam. Kuotanya sekitar 100 ton per kabupaten setiap tahun,” katanya.

Selain itu, Bulog juga mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang menyediakan beras dengan harga lebih terjangkau, terutama bagi masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.

Di sisi lain, pemerintah pusat juga telah menyiapkan program bantuan pangan selama tiga bulan bagi masyarakat kategori desil 1 hingga desil 4 atau kelompok sangat miskin, miskin, dan rentan miskin. Untuk Kabupaten Cianjur, alokasi bantuan tersebut mencapai sekitar 8.000 ton beras setiap bulan atau sekitar 24 ribu ton selama tiga bulan.

“Seluruh beras bantuan sudah tersedia di gudang Bulog. Tinggal menunggu perintah penyaluran dari Badan Pangan Nasional,” ujarnya.

Sementara itu, musim kemarau turut berdampak terhadap penyerapan gabah petani. Azwar mengungkapkan, volume gabah yang diserap Bulog saat ini turun sekitar 50 persen dibandingkan musim panen penghujan.

GRIB Jaya Cianjur Gelar Rakercab, Dorong Penguatan Ekonomi dan Sinergi Daerah

Menurutnya, penurunan tersebut terjadi karena luas tanam berkurang sehingga produksi gabah ikut menurun. Di sisi lain, harga gabah justru meningkat di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram sehingga banyak petani memilih menjual hasil panennya kepada pihak swasta dengan harga lebih tinggi.

“Secara kuantitas memang turun hampir separuh dibanding musim penghujan. Tapi dari sisi petani justru lebih menguntungkan karena harga gabah sekarang rata-rata di atas HPP,” katanya.

Meski demikian, Bulog tetap melakukan pembelian gabah dari petani melalui Mitra Kerja Pengadaan (MKP) yang tersebar di wilayah Cianjur dan bekerja sama dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk memperoleh informasi lokasi panen.

Fuad menegaskan, penurunan serapan gabah di Cianjur tidak mengganggu ketahanan stok Bulog karena pasokan juga berasal dari wilayah Sukabumi yang saat ini masih memasuki masa panen.

“Stok kami tidak hanya berasal dari Cianjur, tetapi juga dari Sukabumi yang saat ini panennya masih cukup baik. Karena itu kami optimistis stok tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga musim penghujan tiba,” pungkasnya.(**)

Kalapas Cianjur Berharap 10 Warga Binaan yang Langsung Bebas Dapat Diterima Kembali oleh Masyarakat
Exit mobile version